Membunuh Biarawati Demi Cinta, Tafsir Lirik "Is It Really So Strange?" — The Smiths
Lagu-lagu The Smiths selalu menawarkan lirik yang menyenangkan untuk ditafsirkan. Ditulis dengan gaya khas Morrissey, lirik-lirik itu bersembunyi di balik metafora, simbol, dan absurditas yang mengundang berbagai interpretasi.
| Sumber: Treble |
Salah satu lagu The Smiths yang menarik perhatian saya adalah “Is It Really So Strange?”.
Saya sempat membaca berbagai tafsiran dari para pendengar The Smiths. Seperti biasa, penafsiran atas lirik mereka sangat beragam. Ada yang melihat lagu ini sebagai representasi kebingungan seksualitas sang narator, di mana North dan South dimaknai sebagai simbol orientasi gay dan straight. Tafsiran ini sejalan dengan persona Morrissey yang selama bertahun-tahun memang nggak pernah secara jelas mendefinisikan seksualitasnya. Ada juga yang menafsirkan lagu ini sebagai potret seorang penguntit yang obsesif dan nggak kenal batas dalam mencintai.
Unik, sekaligus menunjukkan betapa luasnya ruang tafsir dalam lagu-lagu The Smiths.
BACA JUGA: Tafsir Lirik "Ballad of Big Nothing" oleh Elliott Smith
Tapi, saya sendiri memilih untuk memahami lagu ini secara lebih emosional dan langsung. Bagi saya, “Is It Really So Strange?” adalah ungkapan cinta yang meledak-ledak. Cinta yang begitu intens, begitu mendesak, sampai terasa nggak masuk akal.
Lirik pembuka lagu ini menunjukkan awal dari luapan perasaan sang narator:
I left the North I travelled South
I found a tiny house
And I can't help the way I feel
Rumah kecil yang disebutkan di sini bukanlah tempat fisik, melainkan simbol dari seseorang yang dicintainya. Perasaan cinta itu tumbuh dan membesar dengan cepat, begitu besar hingga nggak bisa ditahan.
Narator bahkan menyatakan bahwa ia rela ditendang, ditonjok, dan wajahnya dihancurkan demi menunjukkan bahwa perasaannya tetap nggak berubah.
Oh yes, you can kick me
And you can punch me
And you can break my face
But you won't change the way I feel
'Cause I love you
Sayangnya, cinta ini nggak berbalas. Sosok yang dicintai menganggapnya aneh, dan sang narator pun bertanya, apakah cintanya memang sebegitu ganjilnya?
Oh, is it really so, really so strange?
I say NO, you say YES (But you will change your mind)
Ia tetap bersikeras. Ia yakin, cepat atau lambat, perasaannya akan diterima. Tapi pada saat yang sama, perasaan itu justru mulai berubah arah. Cintanya menjadi obsesif, liar, dan makin nggak terkendali.
| Photo by Vitaliy Shevchenko on Unsplash |
Perasaan ini bahkan berujung pada pembunuhan seekor kuda dan seorang biarawati oleh sang narator. Ini menjadi sebuah gambaran ekstrem tentang bagaimana perasaan cinta bisa melahirkan kekacauan batin.
Lalu, muncul satu baris yang tampak nggak ada hubungannya:
I lost my bag in Newport Pagnell
Sekilas terdengar sepele. Namun dalam konteks lagu, kalimat ini terasa sangat signifikan. “Tas” di sini bisa dibaca sebagai simbol dari sesuatu yang personal, mungkin kenangan, kendali diri, atau bahkan arah hidup. Dan Newport Pagnell, sebuah kota kecil yang mungkin nggak berarti bagi kebanyakan orang, justru menjadi tempat di mana sang narator kehilangan sebagian dari dirinya.
Setelah seluruh luapan emosi dan cinta yang nggak terbalas itu, baris lirik ini terasa seperti bentuk kelelahan dan kehilangan yang mendalam. Seolah-olah ia berkata,"Gue udah jalan sejauh ini, mencintai sejauh ini, tapi gue kehilangan sesuatu yang penting dalam prosesnya.”
Di bagian akhir lagu, muncul nuansa perenungan. Sang narator mulai meragukan perasaannya sendiri dan seakan-akan bertanya apakah cinta yang seperti ini masih layak untuk dipertahankan?
Why is the last mile the hardest mile?
My throat was dry, with the sun in my eyes
Dan akhirnya, ia sampai pada sebuah kesadaran. Perjalanan emosional ini sudah ia tempuh terlalu jauh. Nggak ada jalan kembali. Ia telah mencintai begitu dalam, terlalu dalam, dan ia sadar: perasaan itu telah mengubah dirinya sepenuhnya.
And I realised, I realised
I could never I could never, never
never go back home again.
Komentar
Posting Komentar