Tentang Saya
![]() |
| Saya di Jakarta, 2024 (Dok. Pribadi) |
Guru Matematika saya di SMA pernah komentarin nama saya, “Ibu udah sering liat rumus matematika yang rumit, tapi kenapa nama kamu lebih rumit, ya?”
Membalasnya, saya hanya tersenyum dengan sederhana; dengan senyum yang tak sempat — eh kok jadi puisi!
Pada lain kesempatan, guru tata usaha yang mengurus berkas-berkas untuk kelulusan juga pernah bilang, “Namamu ini, Qie, bikin orang sering salah ketik.”
Membalasnya, saya tersenyum lagi dan dengan penuh kesabaran membalas, “Iya, Pak.”
Saya harus balas apa lagi coba???
Meski begitu, saya sendiri sangat menyukai nama saya. Menurut saya, kesannya istimewa gitu sehingga berbeda dari “Rizki” atau “Rizky” yang lain walaupun maknanya sama persis, yaitu rezeki.
Saya jadi penasaran, orang tua saya dapat inspirasi nama dari mana, ya? Tulisan “Rizki” aja bisa sampai dibelokkan dan diutak-atik sedemikian rupa sehingga menjadi tulisan nama saya:
Ridzqie Abdillah
Ya, perkenalkan teman-teman, nama saya Ridzqie Abdillah. Supaya sederhana dan mudah, teman-teman bisa memanggil saya dengan nama panggilan “Iqie” atau “Qie”. Jujur, saya sangat menyukai nama panggilan tersebut. Tapi, kalau mau panggil saya dengan selain itu bebas banget, kok — asal jangan pakai nama hewan aja!
Saya lahir di Bekasi, 29 Desember 2006. Dan iya, saya adalah seorang Capricorn dan Gen Z yang sangat suka mendengar musik, menyesap kopi, membaca buku, dan belakangan sedang belajar menulis. Kini, saya berusia 18 tahun dan baru banget lulus SMA di awal bulan Mei 2025.

![]() |
| Dua gambar di atas mewakili saya dan minat yang saya pelihara. (Dok. Pribadi) |
Salah satunya adalah menulis. Saya mulai aktif menulis di Medium sejak April 2025, tapi perjalanan menulis saya sudah lebih panjang daripada itu.
Sejak kapan dan kenapa saya menulis?
![]() |
| Foto saya dan teman-teman sekelas di Ragunan ketika SD. Saya ada di paling ujung mengangkat novel bersampul biru — ya, itu adalah novel pertama yang saya baca. (Dok. Pribadi) |
Saya kesulitan untuk mengingat tepatnya kenapa saya memutuskan untuk membeli novel itu. Namun, keputusan itu jelas bukan keputusan yang saya sesali. Sebab, novel itulah yang mulai memunculkan rasa cinta saya untuk membaca.
Saya pun mulai membeli novel lain dan melahapnya dengan nikmat sekali. Lama-lama, saya makin suka untuk membaca. Kesukaan saya terhadap membaca inilah yang mendorong saya untuk mulai menulis.
Awalnya, saya menulis hanya untuk menuang sedikit demi sedikit ide yang meluap di kepala karena membaca buku. Saya coba menulis cerita-cerita pendek, yang cuma berisi 1–3 paragraf. Saya juga mulai menulis catatan harian (diari) setiap hari.
Ternyata, saya juga jadi menyukai kegiatan menulis. Membaca dan menulis pun menjadi dua kegiatan yang bersiklus dan terus berlangsung dalam kehidupan saya.
Di SMP, ketika saya sedang suka membaca puisi, saya coba menulisnya. Penulis puisi yang paling saya sukai adalah Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo. Selain itu, saya juga meneruskan kesukaan saya menulis cerpen.
![]() |
| Foto saya dan komunitas kecil kesayangan saya di SMA: PUSAKAWIRA. Kami berpose L untuk literasi. Saya duduk di samping Ibu guru pembina komunitas memegang buku pedoman stoisisme saya, Filosofi Teras. (Dok. Pribadi) |
Kemudian, di SMA, kecintaan saya terhadap literasi pun semakin menguat. Saya gabung ke dalam komunitas PUSAKAWIRA (Pustakawan Siswa/i SMAN 1 Cikarang Utara) dan menyalurkan minat saya ke dalamnya. Di komunitas ini, saya berbagi bacaan dengan teman-teman, belajar menulis kreatif, sampai mengadakan acara literasi satu sekolah yang kami sebut “Readathon (Read Marathon)” — di mana seluruh siswa diminta untuk membawa satu buku lalu dikumpulkan di lapangan untuk membaca buku bersama.
Rangkaian kejadian-kejadian di atas adalah rangkuman dari evolusi hubungan saya dan dunia tulisan. Kenyataannya, seperti evolusi sesungguhnya, semuanya berlangsung perlahan-lahan dan tanpa saya sadari. Kesukaan membaca dan menulis lama-lama menjelma kebiasaan hingga dengan perlahan tapi pasti menetapkan dirinya sebagai bagian dari hidup saya yang tak dapat dipisahkan.
Kini, saya menulis karena memang sudah seharusnya begitu. Menulis adalah identitas saya. Dan menulis adalah upaya saya untuk tetap menjadi diri saya. Sekali menulis, saya menulis selamanya.
Dan memang begitulah adanya dalam hidup saya. Saya nggak pernah benar-benar berhenti menulis sejak mulai melakukannya.
Yang saya lakukan hanyalah mengubah jenis tulisan, dan cara penulisannya. Bagi saya, perubahan itu alami karena sesuai dengan keadaan diri dan jiwa saya yang terus-menerus digeser waktu.
Saya sempat menulis cerpen, puisi, diari, bahkan karena saya juga sangat suka mendengarkan musik, saya coba menulis lagu. Semuanya terus berubah-ubah, sampai pada April 2025, ketika kekosongan karena libur sekolah melanda, saya memutuskan untuk belajar menulis nonfiksi berupa esai/opini.
Baca tulisan di bawah untuk mengetahui lebih lengkap tentang latar belakang dan bagaimana saya mulai belajar menulis esai.
Selain alasan utama terkait jati diri, alasan lain saya dalam menulis bisa dirangkum dalam poin-poin berikut.
- Nggak mau kalah apalagi ketergantungan sama Generative AI yang sudah makin lihai menulis.
- Untuk membiasakan diri menulis supaya nanti ketika di dunia perkuliahan nggak kesulitan buat bikin makalah, laporan, karya ilmiah, sampai skripsi.
- Karena keren aja gitu, hehehe!
- Untuk berbagi tentang hal-hal yang saya sukai, seperti musik, buku, dan lain-lain.
- Untuk membangun portofolio karya saya.
Siapa inspirasi saya dalam menulis?
Begitu banyak sosok yang menjadi inspirasi saya untuk menulis. Bisa saya bilang, setiap penulis yang bukunya sudah saya baca atau setiap artis yang karyanya sudah saya konsumsi — mereka sudah berhasil menginspirasi saya. Meski begitu, tentu saja saya juga punya sosok-sosok idola. Daftarnya sebagai berikut.
- Raditya Dika — Bapak-bapak Capricorn multidimensional beranak dua dan beristri satu ini adalah role model saya. Dia juga yang menginspirasi saya untuk menulis. Bukunya yang pertama kali saya baca adalah Babi Ngesot. Membacanya, saya dibuat ngakak sampai terngesot-ngesot. Saya kagum bagaimana Radit bisa menyampaikan cerita yang remeh dari kehidupan sehari-sehari dengan cara yang lucu dan amat menarik untuk diikuti.
- Haruki Murakami — penulis Jepang (yang juga Capricorn) ini adalah salah satu penulis favorit saya. Cerita di novelnya aneh bin absurd banget, tapi saya nggak bisa berhenti baca. Buku favorit saya dari dia sejauh ini adalah Norwegian Wood. Dari Murakami, saya belajar bahwa ide cerita seliar apa pun bisa ditulis! Alasan lain saya suka Murakami adalah selera musiknya yang gokil.
- The Beatles — band favorit saya nomor #1, terfavorit, seakan nggak ada yang lebih favorit. Produktivitas mereka dalam mencipta lagu membuat saya bersemangat untuk terus mencipta tulisan. Apalagi, dari album ke album, musik mereka selalu berkembang dan itu menginspirasi saya untuk terus menulis dan meningkatkan kualitas tulisan demi tulisan.
- Emha Ainun Nadjib — saya sangat suka tulisan-tulisannya Mbah Nun karena keren dan canggih banget. Bahasanya kadang begitu teknis, kadang juga merakyat, pengetahuannya luas, tapi penyampaian pesannya efektif. Beliau adalah esais idola saya.
- Sapardi Djoko Damono — ketika SMP, saya suka menulis puisi dan penyebab utamanya adalah pria romantis ini, terutama buku kumpulan sajaknya, Hujan Bulan Juni. Dan percaya atau tidak, kesukaan saya menulis puisi memengaruhi gaya menulis saya hingga sekarang.
Apa yang saya tulis?
Saya menulis tentang banyak hal — terutama hal-hal yang saya sukai, seperti buku dan musik. Supaya mudah diingat, tulisan saya bisa dikotak-kotakkan ke 4 daftar berikut.
#1: Tulisan tentang Karya Lain
Tulisan ini bisa saja berbentuk ulasan maupun pembahasan secara umum. Biasanya membahas tentang buku apa yang baru saya baca, musik apa yang sedang sering saya dengar, atau film apa yang minggu kemarin saya tonton.
Contoh tulisan:
- Membersihkan Rumah Bukanlah Beban, melainkan Cara Merawat Pikiran
- Belajar Menyikapi Perubahan bersama Bob Dylan
- Bergoyang bersama “Juwita Malam” oleh FLEUR!
- 5 Rekomendasi Lagu The Beatles buat Gen Z
- Semalam Bersama Haruki Murakami
#2: Dokumentasi Keseharian dan Refleksi
Tulisan ini berisi keseharian saya — bisa berupa cerita, ingatan, kenangan, keluhan, atau renungan yang dikemas sedemikian rupa supaya enak dibaca.
Contoh tulisan:
- Acara Kelulusan yang Sederhana di Sekolah yang Sempat Viral
- Kopinya Habis, Pikirannya Belum
- Saya Bukan Siapa-Siapa untuk Menulis tentang Apa-Apa
- Tanya Tugas Jadi Tanya Lowongan Kerja: Obrolan Pamungkas Masa SMA
- Bukan PTN atau Kedinasan, Teman Saya Pilih ke Jerman setelah Lulus SMA
#3: Esai Serius
Tulisan ini membahas suatu topik secara lebih serius dan mendalam.
Contoh tulisan:
- Saya Tidak Akan Pernah Benar-Benar Bebas, dan Saya Bersyukur Karenanya
- Memahami Dunia Murakami: Sebuah Eksperimen Menyatukan Musik dan Cerita
- Polisi Indonesia Mirip Gadis di Lagu “Stecu Stecu”, Sulit Didekati dan Jual Mahal
#4: Fiksi dan Puisi
Walaupun jarang, saya masih suka untuk menulis fiksi seperti cerita pendek ataupun puisi.
Contoh tulisan:
Saya juga sering menulis tentang topik random yang nggak masuk ke dalam empat kategori di atas. Jadi, jangan kaget kalau menemui tulisan saya yang tiba-tiba bercerita tentang kegalauan memilih pakaian sesuai cuaca!
Wah, ternyata seru juga ya menulis tentang diri sendiri. Saya kira saya bakal kesusahan nulisnya, tapi sekarang malah panjang banget kayak autobiografi mini. Wkwkwkwk.
Salam kenal semuanya dan mari terus membaca dan menulis!




Komentar
Posting Komentar