Hari Ini Hujan, Bulan Ini Juni, dan Saya Menulis Puisi Lagi

Kita telah tiba di penghujung bulan Juni.
Saya penasaran, akankah hujan turun lagi? Hujan bulan Juni.

Sumber: X

Di bulan keenam ini, saya selalu saja teringat pada satu puisi yang sangat istimewa di hati saya, yaitu "Hujan Bulan Juni" karya Eyang Sapardi Djoko Damono.

Puisi ini pertama kali tiba di hati saya ketika SMP. Waktu itu, saya dan teman-teman sekelas diminta membaca puisi ini dengan suara lantang. Sejak saat itu pula, saya mulai melahap banyak sekali buku puisi dan perlahan memberanikan diri untuk menciptakan puisi saya sendiri.

Hujan Bulan Juni adalah pintu masuk saya menuju dunia puisi yang indah. Mungkin tanpanya, saya tak akan pernah kenal dengan Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, WS Rendra, Aan Mansyur, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohamad, Rabu Pagisyahbana, dan banyak lagi penulis puisi lain yang karyanya saya sukai.

Saya berterima kasih kepada Eyang Sapardi. Bukan hanya karena puisi itu dan keindahannya, melainkan juga karena puisi itu mampu menggerakkan saya untuk mencemplungkan diri ke dalam dunia puisi. Kekuatan puisi itu begitu besar.

BACA JUGA: Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka - Sapardi Djoko Damono

Walaupun sekarang saya sudah jarang menulis puisi, kadang-kadang saya masih merindukan proses menulisnya. Ada perasaan indah yang bersarang di dalam diri saya setiap kali melakukannya. Perasaan itu berbeda sekali dengan saat saya menulis opini.

Saya tak tahu mana yang lebih saya sukai. Tapi hati saya, rasanya, membutuhkan keduanya.

Halo, Eyang.
Saya mulai menulis puisi karenamu.
Dan saya akan kembali menulis puisi karenamu. Sekali lagi.

Langit Sehabis Gerimis Panjang

Hujan rintik-rintik yang panjang

—yang sabar tak menderas kencang—

disulap bumi dan gaib bersama awan

ketika pagi bisa dikatakan siang.

“Rintik itu turun sejak semalam.

Henti juga sekarang

bagai tangisan seseorang

sebelum dapat melupakan.”

Ada yang menutup payung

dan melepas jas hujan.

Ada yang berhenti berlari

dan berjalan saja.

Langit, meskipun tinggi,

ia rendah hati.

Melihat langit

dari pantulan air.

Tiada mega bersemayam.

Langit ialah kemewahan.

Biru yang sederhana.

Burung beterbangan padanya!

Sehabis gerimis yang panjang

mata-mata memandang ke atas.

Sepercik dari surga yang telanjang

tiada lagi yang lain: langit yang bebas!

Komentar

Postingan Populer