#18: Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka
Photo by Ilham Abitama on Unsplash
Ketika jari-jari bunga terbuka / Mendadak terasa betapa sengit / Cinta kita
Puisi itu bersenandung dalam kepala saya pagi ini dalam bentuk musik yang dibawakan dengan cantik oleh Ari Reda. Cuaca pagi yang cerah dan berangin rasanya cocok sekali dengan suasana nada dan baris-baris puisi itu. Petikan gitar yang ringan dan vokal musikalisasi puisi itu sangat cocok untuk didengarkan di pagi hari.
Pagi ini, saya jadi membayangkan bunga yang mekar dan warnanya menyeruak karena dimandikan cahaya mentari. Ada yang merah, kuning, putih, dan merah muda begitu cerah. Dan senyum saya turut terlukis bersama kabel listrik yang ditenggeri burung gereja dan kucing yang duduk saja di bawah pohon bunga.
Ketika jari-jari bunga terbuka / Mendadak terasa betapa sengit / Cinta kita
Betapa sengit cinta kita? Saya penasaran dengan diksi "sengit" dalam puisi yang ditulis Sapardi ini. Betapa sengit cinta kita? Apakah maksudnya kita begitu saling mencintai sehingga cinta kita secara sengit saling sahut-menyahut dan balas-membalas? Apakah maksudnya ada pertandingan sengit di dalam cinta kita sehingga harus saling membuktikan bahwa aku lebih mencintaimu daripada kau mencintaiku atau sebaliknya?
Apapun itu, saya yakin artinya indah. Sangatlah indah. Begitu indah. Seakan tiada lagi yang lebih indah.
Ah, saya mau coba baca puisinya secara penuh.
Komentar
Posting Komentar