Satu Lagu yang Bikin Saya Jatuh Cinta dengan Fantasma
Belakangan ini, saya sedang gemar menyelami album-album klasik yang pernah populer. Ada semacam dorongan untuk membuka telinga saya terhadap nada-nada asing. Saya ingin mendengar berbagai macam musik lintas genre, lintas budaya, dari berbagai musisi dengan warna musik yang berbeda-beda. Ini saya lakukan sebagai cara memperluas referensi musikal saya.
Selain sebagai pendengar, saya juga ingin lebih siap jika sewaktu-waktu harus menulis tentang musik atau mengulasnya dalam format lain. Referensi yang kaya akan sangat membantu dalam menyusun tulisan yang tajam dan bernuansa.
| Sumber: Spotify |
Salah satu album yang baru saja saya dengarkan adalah Fantasma karya Cornelius. Saya sempat membagikan cerita pendek soal album ini di Instagram, dan menurut saya, Fantasma adalah pengalaman yang luar biasa menyegarkan. Rasanya seperti makan permen warna-warni di tengah keramaian Dufan: ceria, mengejutkan, dan memikat dari awal hingga akhir.
Dari semua trek di dalamnya, lagu favorit saya adalah "Chapter 8 Seashore and Horizon".
Lagu ini begitu memikat. Dimulai dengan progresi gitar akustik yang halus, kemudian disusul oleh tumpukan vokal lelaki dan perempuan yang saling menyahut dalam harmoni. Aransemen ini mengingatkan saya pada nuansa The Beach Boys yang lembut, berlapis, dan penuh warna.
Lirik di bagian verse juga sangat puitis. Lagu ini bercerita dari sudut pandang seseorang yang sedang memandangi alam, khususnya laut, dengan lanskap biru yang mendominasi. Kata-katanya sederhana, tapi berhasil membangun suasana yang meditatif dan tenang.
"Now I see the trees are thinning
My eyes see the seashore there
Shimmering the sea is brimming
Simmers salty air."
Ada juga lirik seperti ini:
"If I don't guess, then I won't know / Oh, I'll never know."
Kalimat ini terdengar seperti renungan tentang pencarian makna kehidupan. Liriknya seakan menjelaskan bahwa tanpa keberanian untuk menebak, meraba, dan mencoba memahami, kita tidak akan pernah tahu apa sebenarnya arti dari kehidupan ini. Sang narator mencoba mencari makna itu melalui penghayatan terhadap alam di sekitarnya, dari laut, cakrawala, dan angin. Maka, ketika lagu ditutup dengan kalimat:
"Now I go, now I know..."
Itu seakan menunjukkan bahwa pencariannya telah membuahkan hasil. Ia tak hanya melihat, tapi juga memahami.
BACA JUGA: Ulasan Lagu "Corner of My Eye" – The Lemon Twigs
Menariknya, lagu ini termasuk yang paling konvensional di album Fantasma. Bisa dibayangkan, bukan, seberapa eksperimental trek-trek lainnya?
Lagu ini juga memiliki momen transisi yang unik. Terdengar suara seperti kaset yang dimasukkan ke dalam tape player, menandakan perubahan suasana secara tiba-tiba. Lagu bergeser ke bagian baru yang terasa seperti jendela penyegar, sebelum akhirnya kembali ke verse awal dengan efek rewind yang khas.
Saya sangat menyukai lagu ini. Melodinya manis, terutama di verse, dan perpaduan vokal pria dan wanita terasa sangat serasi. Lagu ini bukan hanya indah secara musikal, tapi juga filosofis dalam penyampaiannya.
Komentar
Posting Komentar