Ulasan Lagu “Corner of My Eye” – The Lemon Twigs
“Corner of My Eye”: Lagu yang Manis nan Magis
| Sampul album Everything Harmony, tempat lagu "Corner of My Eye" bersemayam. Sumber: Spotify |
Lagu ini dibuka dengan lirik, “I’ve got a wonderful feeling”, dan benar saja, dari awal sampai akhir, musik dan melodinya terasa wonderful.
Lagu ini adalah “Corner of My Eye” dari The Lemon Twigs, duo bersaudara D’Addario yang konsisten menciptakan karya unik dan penuh warna.
Bagi saya, ini bukan sekadar lagu cinta. Lagu ini adalah rasa cinta itu sendiri. Rasanya seperti saat pertama kali melihat seseorang, lalu dunia rasanya jadi terang. Melodinya manis banget, kayak gula bertumpuk-tumpuk. Falsetonya lembut, harmoni vokalnya bersahutan, dan instrumen-instrumennya saling mengisi dengan pas. Ada gitar klasik, drum yang lembut, bass yang tersembunyi tapi nendang, bahkan ada vibrafon yang mengisi celah melodi di bagian reff, memberikan sentuhan magis ke lagu ini.
Baca juga: Ulasan Album Please Please Me – The Beatles
Bahas Lirik “Corner of My Eye”
Lirik lagu ini juga nggak asal-asalan. Ada permainan kata yang cukup seru diikuti. Contohnya:
“I saw you twice before
now I really wanna see you more.”
Kenapa "twice"? Kenapa bukan "once", atau "thrice"? Saya pun mikir, kalau once, itu mungkin cuma ketemu biasa. Tapi kalau twice, ada perasaan, “Lah, ketemu lagi nih? Kok kebetulan banget?”. Rasanya, kayak-kayak semesta lagi memberi kode. Hehehe~
Naratornya cerita bahwa dia baru aja patah hati, dan kemunculan si “You” ini jadi semacam obat. Makanya dia bilang:
“But when I’ve got you in the corner of my eyes
all my moments are the same when days or night.”
Ada yang lekat di kepala; ada yang tersangkut di hati. Naratornya nggak bisa melupakan si “You” ini.
Melodi reff-nya juga juara, sangat catchy dan dreamy banget.
Tapi, bagian bridge-nya cukup membingungkan saya.
“I know that I won’t forget you
May not be wise, I might regret you.”
Ini ditujukan kepada siapa? Mantannya? Atau justru orang baru yang dia taksir? Ada ambiguitas di sini, dan justru itu yang bikin menarik. Naratornya kayak belum pulih, tapi juga udah jatuh cinta lagi. Ada perasaan indah dan kekhawatiran yang campur aduk.
Penutup
Lagu pun ditutup dengan pengulangan lirik akhir bagian refrein:
“I saw you twice before
now I really wanna see you more.”
Lalu gitar klasik mengarahkan semua instrumen ke kunci tonic. Selesai.
Tapi rasa manisnya masih tertinggal. Dan saya, nggak bisa menghindar, akhirnya ikut menggumam, “I really wanna see you more…”
Komentar
Posting Komentar