Teman Baru
| Foto oleh Helena Lopes di Unsplash |
Tidak ada yang lebih melegakan dibandingkan percakapan dengan seorang teman. Semuanya berlangsung begitu tulus tanpa paksaan. Celetukan tawa dan letupan kecil kata-kata kutukan selalu muncul di antara percakapan, tapi pesan senantiasa tersampaikan. Semuanya terserap dalam diam yang ada di relung-relungnya.
Aku sendiri percaya, teman akan selalu ada. Memang, ada beberapa teman yang begitu spesial bagiku, yang kini terpisahkan oleh ruang dan kesibukan. Namun, kembali lagi, teman akan selalu ada dan jika pun tiada, akan berganti.
Maka pagi ini, aku bercakap-cakap dengan seorang teman baru di teras kos-kosan. Kami duduk, sambil ngopi dan ngunyah crackers. Musik adalah topik utama kami.
Ada aliran yang menenangkan dan timbal balik menyenangkan selama percakapan. Ketika ia bercerita panjang lebar, aku mendengarkan. Begitu pun ketika giliranku. Pelan-pelan, sejarah kehidupan masing-masing terungkap. Kami makin terbuka, hubungan kami semakin dekat. Aku pun tahu seperti apa ia dulu dan bagaimana ceritanya sampai ia seperti sekarang. Begitu pun sebaliknya.
Aku semakin percaya, keindahan hidup ada dalam hubungan-hubungan. Hubungan manusia dengan manusia lain, manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam. Aku dan temanku.
“Betapa bahagianya/punya banyak teman/betapa senangnya // Betapa bahagianya/dapat saling menyayangi.” —Sherina
“Now ain’t it good to know that you’ve got a friend/when people can be so cold.” —Carole King
“I get by with a little help from my friends.” —The Beatles
Perasaan indah ini tidak hanya aku rasakan dalam romansa. Ya, ya, aku mulai merasakannya kembali. Aku bersyukur dapat kembali menemukan teman.
Dan aku akan jatuh cinta
lagi
dan
lagi
kepada suatu hal yang aneh
bernama kehidupan.
Komentar
Posting Komentar