Perubahan Itu Manusiawi, Ucap Weyes Blood lewat "A Lot's Gonna Change"

Sumber: NPR
Dibuka dengan komposisi synth yang menegangkan namun muram, “A Lot’s Gonna Change” oleh Weyes Blood langsung mengisi telinga saya. Musiknya berhenti sejenak. Lalu, piano dengan akor minor masuk perlahan. Vokal Natalie Mering yang jernih bagaikan kristal mulai menyanyikan baris pertamanya.

If I could go back to time

before now

before I ever fell down

Go back to a time where I was just a girl,

when I had the whole world.

Lagu ini bercerita tentang kerinduan pada masa lalu, di mana segalanya terasa baik-baik saja.


Belakangan ini, banyak hal datang ke hidup saya tanpa saya minta, tanpa saya duga, bahkan tanpa saya inginkan. Di tengah semua itu, saya sering merindukan masa lalu. Masa di mana semua terasa aman, terduga, dan berada dalam kendali saya. Saya tidak harus terus-menerus waspada dalam menjalani hidup.

Ah, betapa indahnya masa kecil.

Tidak ada rasa takut, tidak ada keinginan untuk bersembunyi dari dunia, dan tidak ada tuntutan untuk selalu “menjadi sesuatu.” Segalanya berjalan ringan dan alami.

Namun lewat lagu ini, Natalie seakan berkata: banyak hal akan berubah, dan itu normal. Perubahan adalah bagian dari hidup. Mau tidak mau, saya harus menerimanya.

Cara saya memandang akan berubah. Cara saya dipandang pun akan berubah. Begitu juga dengan hidup: terus berubah, terus bergerak, terus berjalan.

Sepanjang lagu ini, Natalie menenangkan saya. Ia bilang, “Hidup memang begini kok.” Yang saya perlukan hanyalah membiasakan diri. Menerima rasa sakit, kehilangan, dan kegelisahan yang datang dari perubahan, dan tidak membencinya.

Padahal, lagu ini disusun dengan progresi akor minor yang cenderung melankolis. Tapi justru di balik itu, pesannya begitu positif, realistis, dan penuh penerimaan.

A lot’s gonna change

in your lifetime

Try to leave it all behind

in your lifetime.


Dengan harmoni vokal yang megah, string yang lembut, synth yang atmosferik, pola drum yang tidak biasa, dan alunan organ, lagu ini terasa seperti baroque-pop dengan sentuhan chamber yang kontemplatif.

Satu hal yang paling saya sukai dari lagu ini adalah vokal Natalie Mering yang bersih dan mengawang. Cara bernyanyinya seperti mengambil napas dari musik opera abad ke-16, tapi tetap terasa relevan di musik pop masa kini. Unik dan tak tergantikan.


Dan di bagian akhir lagu, Natalie menyampaikan penutup yang terasa sangat personal. Setelah semua pesan afirmatif yang ia sampaikan tentang menerima perubahan dan rasa sakit, ia melunak dan membuka dirinya:

Let me change my words

Show me where it hurts.

Kalimat penutup yang lembut. Ia tidak hanya memberi nasihat, tapi juga menawarkan dirinya sebagai teman yang siap mendengarkan. Sebuah penutup yang manis dan manusiawi.

Komentar

Postingan Populer