Semakin Saya Memberi Tahu, Semakin Saya Tidak Tahu

Belakangan, saya tidak lagi menulis setiap hari. Jadwal dan kegiatan menulis saya terlompat-lompat. Utamanya, ini karena saya sedang menjalani proyek 30HariCeritainMusik di Reels dan Tiktok, dan itu cukup memakan banyak waktu dan willpower saya—mulai dari scripting, recording, editing, dan uploading.

Selain itu, di tengah sibuknya kegiatan baru itu, saya juga sedang membantu guru Bahasa Inggris saya di SMA melatih debat bahasa Inggris di sekolah. Ya, saya tahu saya cuma bisa debat kusir membanding-bandingkan antara The Beatles vs. Taylor Swift, tapi percayalah, saya pernah ikut lomba debat kelompok Bahasa Indonesia di UNSIKA dan dapat juara harapan 2. Ya, lumayan, lah!

Selagi mengetikkan tulisan ini di waktu luang saya, wah, ternyata saya benar-benar merindukan pengalaman mengetik di laptop saya—mengetikkan kata-kata dan kalimat yang bercerita—bercerita apa saja tentang yang ada di pikiran saya. Enak banget ini! asdfghjkl qwertyuiop zxcvbnm.

Eh, kembali ke kegiatan menulis yang mangkrak. Jadi, karena kesibukan itu semua, saya cukup kesulitan menulis. Rasanya berat saja gitu. Namun, saya percaya sekali menulis maka selamanya menulis. Jadi saya niatkan kegiatan menulis skrip video setiap hari itu sebagai pengganti kegiatan menulis saya. Toh, sama-sama menulis?

Maka, saya pun menjalankan semuanya dengan semangat yang mantap. Sekarang, saya sudah berada di hari ke-17 dari tantangan itu. Tapi, sekarang juga keinginan saya untuk kembali menulis sudah memuncak tinggi sekali sehingga tak bisa lagi ditahan

Maka saya pun menulis tulisan ini. Tulisan yang lahirkan dari puasa menulis selama tujuh hari (ya, itu sangat lama bagi saya!) yang tidak akan saya edit, tapi langsung saya posting setelah ditulis. Jadi, maklum ya kalau tulisan ini berantakan.


Di hidup saya, saya tak tahu sudah berapa kali Tuhan membukakan pintu-pintu menuju perjalanan baru. Sesaat setelah lulus SMA, saya jadi rajin menulis. Dan kini, sesaat menjelang masuk Semester 1 kuliah, saya jadi rajin menulis (sama aja memang, tapi) kali ini tentang musik, dan saya juga mencoba menyuarakan tulisan saya lewat video konten berformat pendek untuk akun Tiktok dan Instagram saya.

Semuanya iseng-iseng eksploratif, tapi hadiahnya begitu nyata. Mulai menulis di Medium, saya akhirnya bisa bertemu dengan Uda Ivan Lanin, dan penulis-penulis lain yang begitu luar biasa. Mulai membagikan video cerita musik di medsos, saya disapa oleh begitu banyak penggemar musik yang sama, yang sepemikiran, ada juga yang berseberangan. Saya bertemu begitu banyak orang yang mungkin tidak akan pernah saya temui jika saya tidak memberanikan diri untuk muncul dengan karya saya sendiri.

Dan salah satu hadiah yang sedang saya rasakan kini adalah rasa haus akan wawasan yang melilit tenggorokan saya. Semakin saya memberi tahu dan menceritakan kepada orang lain lewat konten-konten musik saya, semakin sadar pula bahwa saya tidak tahu musik apa pun dan artis siapa pun. Pengetahuan saya hanya terbatas pada diskografi The Beatles, diksi saya cuma apakah suatu musik enak atau tidak enak, dan pembahasan saya masih begitu dangkal.

Duh, katanya mau jadi jurnalis musik!

Saya merasa sangat haus, dahaga, lapar, sengsara, tapi saya sangat berbahagia. Belakangan, saya jadi rajin kembali membaca, tapi membaca musik (Pitchfork, Denny Sakran, Soleh Solihun). Dan saya masih harus terus membaca lebih banyak dan lebih banyak lagi. Saya harus belajar bagaimana caranya menulis musik dan bagaimana caranya menjadi jurnalis musik (yang terkenal).

Saya harus kembali mengosongkan isi botol saya. Saya harus siap menyerap segala macam, beragam rupa, alangkah banyak pengetahuan dan pengalaman dari semuanya di dunia musik. Masih banyak, banyak sekali orang yang lebih tahu daripada saya, dan saya harus belajar dari mereka.

Itulah yang saya rasakan sekarang. Saya semakin tidak tahu apa-apa. Dan saya semakin semangat untuk mempelajari semuanya.


Wah, lega banget rasanya selesai menulis. Sepertinya, saya harus mengadakan sesi menulis bebas saja seperti ini setiap hari, deh. Singkat saja, bebas, tanpa arah, yang penting tetap ditulis oleh saya.

Komentar

Postingan Populer