Meninjau Waktu dari Dalam Diri

Apa yang kamu rasakan ketika kamu menyadari bahwa begitu banyak hal telah kamu lakukan hari ini, begitu banyak perasaan telah kamu rasakan pada hari ini, dan begitu banyak waktu telah kamu habiskan pada hari ini? Mana saja yang kamu sadari? Mana saja yang tidak?

Saya jarang sekali memikirkannya dan langsung mengucapkan selamat tinggal kepadanya melalui tidur yang jarang nyenyak.

Foto oleh Lukas Blazek di Unsplash


Sayangnya, hari-hari berlalu begitu cepat. Semua orang berkata begitu. Dan memang benar, itu juga yang saya rasakan.

Kesingkatan waktu ini berdampak buruk pada waktu-waktu yang membahagiakan seperti yang sedang saya rasakan sekarang ini, yaitu waktu libur. Liburan yang saya pikir akan bertahan selama-lamanya ketika bulan Maret lalu, kini saya tiba-tiba berada di penghujungnya. Ya, mau tidak mau liburan memang harus berakhir. Masa iya hidup isinya cuma bervakansi?

Duh, saya jadi teringat ungkapan Haruki Murakami: “Kematian itu bagian dari kehidupan.” Dan jika dihubungkan dengan liburan, jadinya begini: “Liburan itu bagian dari kesibukan.” Ya, ya.

Masalahnya, berakhirnya liburan ini berarti berakhir pula rutinitas yang telah saya bangun dengan susah payah selama liburan dan mulai berdatangan kembali masalah-masalah, tantangan-tantangan hidup, dan tugas-tugas kuliah yang baru. Saya akan kembali ke kehidupan yang sebenarnya.

Dan jujur saja, setelah libur yang begitu panjang—kira-kira 4 bulan—saya khawatir belum siap menghadapi masalah-masalah baru di kehidupan saya. Apalagi, tahun ini akan menjadi tahun pertama saya berkuliah. Wah, ada apa dengan dunia perkuliahan, ya?

Namun, guru yang dekat dengan saya pernah berkata, “Masalah di hidup ini ya memang banyak. Satu selesai, pasti satu lagi akan datang. Tapi saya gak mau memikirkannya. Saya jalani saja. Mengalir begitu saja. Nanti, tahu-tahu masalah selesai. Percaya, deh.”

Kembali ke waktu.

Untungnya, hari-hari berlalu begitu cepat sehingga masalah pun dapat berakhir dengan sama cepatnya. Amin.


Ketika melihat waktu dari lensa yang luas, rasanya ia memang berlalu begitu cepat. Dari SD, ke SMP, ke SMA, libur panjang, lalu sekarang saya tahu-tahu dan tiba-tiba dan mendadak kuliah, saya selalu berpikir waktu itu berjalan dengan cepat sekali.

Maka saya ingin mencoba memotong-motong waktu dari abad menjadi milenium, dari milenium menjadi tahun, dari tahun menjadi bulan, dari bulan menjadi minggu, dari minggu menjadi hari, dari hari menjadi jam, dari jam menjadi menit, dari menit menjadi detik, dari detik menjadi milidetik, dari milidetik menjadi kesadaran dalam diri.


Apa yang saya rasakan ketika saya menyadari bahwa begitu banyak hal telah saya lakukan hari ini, begitu banyak perasaan telah saya rasakan pada hari ini, dan begitu banyak waktu telah saya habiskan pada hari ini? Mana saja yang saya sadari? Mana saja yang tidak?

Saya harus memikirkannya dan mencatatnya sebelum tidur setiap hari.



Komentar

Postingan Populer