Kaus Kaki Perubahan
“How many things can one read ‘till they feel they’re not afraid of it all?”
Belakangan, saya sedang suka sekali album Forever Howlong dari Black Country, New Road. Salah satu lagu di album ini yang sedang sering berputar, yaitu “Socks”—lagu dengan lirik yang saya cantumkan di atas.
Lirik itu bisa menggambarkan keadaan saya saat ini. Saya takut, saya bertanya-tanya, saya tidak tahu apa-apa, tapi saya harus terus berjalan. Mungkinkah terus berjalan sambil mencari tahu? Mungkinkah saya akan menemukan jawabannya kelak? Saya tidak tahu apa-apa, itulah mengapa saya takut.
Saya takut, itulah mengapa saya tidak berani memulai. Tapi, saya sudah memulai meskipun masih takut. Duh, saya menulis apa, sih!
How should i proceed? Where should i go? What should i do? When should i start and when should i stop? Saya sudah mencoba mencari tahu, tapi belum cukup dan saya masih takut.
Saya sudah membaca banyak buku, tapi rasanya tidak membantu karena saya masih takut. Ada begitu banyak yang tidak saya ketahui di dunia ini, di dunia yang ingin saya jalani. Bisakah saya mencari tahu semuanya?
Saya sudah mendengar banyak musik, tapi masih banyak sekali yang belum saya telinga saya jamahi. Bisakah saya mendengar semuanya sambil terus berjalan?
Perlukah saya mengetahui semuanya di hidup ini? Perlukah saya mengetahui semuanya dulu sebelum berani memulai?
Haruskah saya mencari tahu semuanya untuk menghilangkan rasa takut? Atau haruskah saya mulai melakukannya dan terus saja melakukannya sehingga rasa takut itu hilang sendiri? Kenapa saya tiba-tiba merasa takut sekali? Ya, ketidaktahuan itu sangat menakuti saya.
Tapi “Socks” bercerita lebih dari itu.
Saya rasa, “Socks” bercerita tentang keberanian untuk memulai meskipun kita belum tahu apa-apa. Karena pada dasarnya, tidak mungkin manusia bisa mengetahui segala sesuatu di dunia ini. Rasa takut pun akan selalu ada setiap kali kita akan melakukan sesuatu. Jadi, sederhananya, mulai saja.
“Maybe i speak in a way/that makes it like i was born yesterday/but i’m not afraid at all”
Baris lirik itu meyakinkan saya untuk terus melakukan yang sedang saya lakukan sekarang. Meskipun saya akan dipandang bocah kemarin sore, amatiran, dan gak tahu apa-apa tentang dunia ini, saya harus tetap berani untuk melakukan semuanya. Saya harus berani. Saya tidak boleh takut.
“In dark there comes the light/and we must try with all our might/to keep this thing alive.”
Ya, ya. Saya harus melakukannya. Dari ketidaktahuan, saya akan belajar banyak. Saya harus melakukan ini sekuat tenaga saya demi diri saya sendiri.
“I’ll stay there right ‘til the day/where you shall pass/i too shall pass/all things must pass.”
Saya harus bertahan untuk terus melakukannya di dunia ini. Toh, semuanya akan berlalu? Kamu yang baca tulisan ini, saya yang menulis tulisan ini, dan semua-muanya di dunia ini akan berlalu juga. Yang saya lakukan adalah usaha untuk hidup. Saya harus berani untuk hidup.
Dengan begitu,
“Yeah life is good/and i feel understood/do you? If you don’t lemme know.”
Ya, ya. Saya merasa dimengerti. Saya merasa lebih baik sekarang. Saya hanya harus terus melakukannya tanpa peduli rasa takut yang ada karena ketidaktahuan atau ketidaktahuan yang ada karena rasa takut. Saya hanya harus terus melakukannya.
“Socks” adalah lagu yang dramatis dan bercerita, di mana terdapat perubahan-perubahan di dalamnya. Bagian dalam diri saya juga berubah setelah mendengarkannya.
Komentar
Posting Komentar