Kucing Saya Mati

Kucing saya mati dan saya nggak bisa menjelaskan perasaan saya saat ini.

Photo by Albert on Unsplash

Saya merasa sangat kehilangan setelah Jeruk, kucing saya, mati. Padahal, saya baru merawatnya selama 2 bulan ini. Belum lama, tapi saya begitu menyayanginya dan sangat menyesal karena kematiannya.

Saya terus menerus menyalahkan diri sendiri karena nggak becus dalam merawatnya. Pasti ada yang salah dalam makanan yang saya beri kepadanya. Pasti ada yang nggak benar dalam cara saya mengasih sayanginya.

Pagi itu, di hari kematiannya, dia sakit. Atau seenggaknya, dia terlihat sakit. Dia begitu lemas dan nggak berdaya. Saya beri makanan, dia nggak mau, tampak nggak selera.

Saya pun meninggalkannya dengan pikiran, mungkin masih kenyang.

Tapi, sampai sore, dia nggak makan apa-apa. Dia nggak minum sama sekali. Saya makin khawatir.

Jeruk yang biasanya bermain-main dengan bayangan, atau berjemur di bawah sinar mentari, kini hanya berbaring tak berdaya. Napasnya tersengal-sengal, perutnya bergerak cepat.

Ketika saya hampiri untuk menyuapinya makanan, dia menggeleng-geleng, merapatkan mulutnya. Entah apa yang dia rasakan. Tapi, dia kemudian bangun dari tidurnya, dan mengusap-usapkan kepala dan badannya ke kaki saya.

Saya pun coba menyuapinya lagi.

“Jeruk, ayo makan. Kamu dari pagi belum makan lho ….”

Dia masih melakukan hal yang sama. Mulutnya terkatup rapat. Tubuhnya bangun tapi begitu lemas lunglai. Kesadarannya tampak tak penuh. Dia berjalan dengan mata setengah tertutup.

Tak lama kemudian, Jeruk pun terbaring kembali, tampak lebih lemas.

Bersabar dan menganggapnya masih kenyang, saya pun kembali ke dalam rumah untuk mengerjakan sesuatu.

Ketika saya keluar lagi, saya dapati Jeruk masih berbaring, tapi tubuhnya nggak bergerak sama sekali, napasnya nggak keluar, dan matanya nggak berkedip. Dia sudah mati.

Saya menyesal sekali. Ternyata, sejak sore dia sedang berjuang menahan rasa sakitnya. Dia sedang sekarat. Meski begitu, dia masih memaksakan diri bangun dari tidurnya dan mengusap-usapkan tubuhnya ke kaki saya untuk seakan-akan bilang, "Gapapa, kok. Jeruk sebentar lagi pergi, ya."

Saya menyesal. Sungguh goblok sekali saya.

Kenapa saya tinggalkan dia?

Kenapa saya anggap dia gapapa?

Dan kenapa saya nggak elus-elus dia lagi untuk terakhir kalinya tadi?

Dan kenapa saya nggak menemaninya di waktu dia sekarat?

Dan kenapa saya nggak coba mengobatinya dengan membawanya ke dokter hewan?

Dan kenapa saya …

Pertanyaan penyesalan seakan-akan muncul tanpa batas di benak saya.

Dengan perasaan paling tak tergambarkan, saya pun menguburnya di tanah depan rumah.

“Jeruk, maafin aku, ya, kalau ngerawatmu nggak bener.”

Sampai sekarang, setiap kali mengingat waktu-waktu yang saya habiskan bersama Jeruk, hati saya terasa sesak.

Maaf, ya, Jeruk. Kalau nanti kita ketemu lagi, aku janji akan merawatmu dengan baik, baik sekali.

Kucing saya mati dan saya nggak bisa menjelaskan perasaan saya saat ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer