#25: Kenapa Mie Gacoan Begitu Enak?
Langit begitu biru. Mentari begitu cerah. Entah kenapa, Mie Gacoan begitu enak.
Saya udah lama nggak makan Mie Gacoan, tapi tiba-tiba terpikirkan oleh saya untuk menuliskan kenikmatan mengunyah dan merasakan pecahnya beragam rasa di mulut dari mie yang satu ini.
Saya menulis ini bukan sebagai food reviewer yang menilai makanan secara merinci dari bahan-bahan sampai cara masaknya (seperti Mamank Kuliner), melainkan lebih sebagai penikmat mie awam.
Saya nggak pernah beli mie yang lain dari Mie Gacoan (selanjutnya disingkat Gacoan); ketika ke Gacoan, saya selalu membeli varian yang mie gacoan. Itu udah paling mantep, the best, nggak ada yang ngalahin.
Mungkin penilaian ini agak diragukan karena saya belum pernah cobain yang lain sehingga nggak ada perbandingan. Tapi, menurut saya, bagaimanapun juga, mie gacoan itu yang paling enak.
Sebelum ngomongin rasa, saya mau mulai dari penampakan mie gacoan dulu. Lihat gambar di bawah ini.
| Sumber: JULO |
Aduh, pemandangannya aja udah bikin ngiler dan membuat saya ingin langsung melahapnya dengan rakus. Mie yang tampak kecokelatan karena kecap selalu berhasil menggetarkan indera penciuman saya. Saya langsung bisa mencium wangi manis mie gacoan meskipun hanya dengan melihat gambarnya.
Rasa manisnya itu sangat menyenangkan lidah. Bahkan, saya sempat merasakan lidah saya bergoyang dombret ketika mengunyah mie yang satu ini. Lidah senang, saya pun senang dan tak ingin berhenti untuk terus memakannya.
Selain rasa manis, jelas dong mie gacoan terdiri dari berbagai rasa. Ada rasa gurih dari bawang dan daunnya (daun bawang maksudnya), suwiran ayam, dan yang lebih juara lagi: rasa pedas yang bisa dipilih-pilih tingkatnya.
Sebagai orang dengan toleransi pedas yang biasa-biasa saja, menurut saya kepedasan mie gacoan level 1 adalah yang paling pas. Pedasnya masih bisa dinikmati, dan rasa asli (manis dan gurih) dari mie gacoan juga masih menampakkan dirinya di hadapan lidah.
Nah, di tiap satu sajian mie gacoan, selalu terdapat 3 buah pangsit berisi daging ayam. Menurut saya, pangsit ini adalah aktor pendukung yang menyempurnakan mie gacoan. Pangsit bisa bikin kenyang, bisa berperan sebagai kerupuk, bisa juga sebagai penetral rasa ketika kepedesan.
Dan tidak bisa tidak, ketika memesan mie gacoan, selalu (baca lagi: SELALU) pesan juga udang keju. Percayalah, itu adalah surga dunia. Udang keju di Gacoan, apalagi jika dipadukan dengan mie gacoan, bagaikan potongan dari surga yang jatuh ke bumi. Ia bagaikan oase di tengah dahaga. Ia bagaikan secercah cahaya di tengah kegelapan. Saya mengucapkan ini apa adanya.
Mie gacoan begitu enak. Udang kejunya betapa nikmat. Ah, kapan lagi, ya, saya ke Gacoan?
Komentar
Posting Komentar