#15: 7 Hal yang Saya Lakukan untuk Menjadi Siswa Terbaik di SMA
Kemarin, di acara kelulusan, saya terpilih sebagai siswa dengan prestasi terbaik dari program peminatan IPS. Tentu saja, saya senang sekali, Mamah saya bangga sekali, dan Ayah saya ada di rumah.
Ada perasaan bangga tersendiri karena dari sekian ratus banyaknya siswa IPS, saya adalah satu yang terpilih sebagai siswa terbaik. Alhamdulillah. Saya pun dipanggil ke atas panggung untuk diberikan sertifikat yang menyatakan prestasi demikian.
Selain saya, ada tiga siswa lainnya yang dipanggil ke atas: Siswa terbaik IPA, ketua OSIS angkatan saya, dan ketua MPK angkatan saya. Selamat ya, teman-teman!
Kami pun bersalam-salaman dengan Bapak kepala sekolah, Bapak komite, dan Bapak wakasek. Tentu saja, kami juga berfoto-foto, dan saya tampil dengan senyum terlebar saya.
Setelah itu, saya kembali ke tempat duduk di mana Mamah saya sudah menunggu, lalu kami berpelukan.
| Saya dan perempuan yang paling saya cintai di dunia (Dok. Pribadi) |
Sekarang, ketika menulis tulisan ini dan mengingat-ingat prestasi itu, saya pun kepikiran,
“Eh, kok bisa ya gua jadi siswa terbaik? Perasaan kerjaan gua ketawa-ketiwi aja di kelas bareng bocah.”
Pada saat itu juga saya tersadar bahwa momen ketika nama saya disebutkan sebagai siswa terbaik hanyalah bagian kecil di puncak proses yang telah saya lalui sejak awal masa SMA, bahkan dari SMP. Banyak sekali yang telah saya lakukan sehingga akhirnya berujung ke prestasi itu.
Muncullah ide tulisan: Apa aja sih yang gua lakuin buat bisa jadi siswa terbaik?
Catatan ini saya tulis untuk mengenang perjalanan saya, dan semoga bisa menjadi bahan motivasi bagi saya sendiri ketika membacanya di masa depan, atau bagi teman-teman yang membacanya.
Selamat membaca dan semoga menginspirasi!
#1: Selalu belajar kalau ada ulangan
Saya selalu belajar kalau ada ulangan. Biasanya, seminggu sebelumnya. Seringnya, semalam sebelumnya (hehehehe). Tapi gapapa. Tak peduli ulangan harian, atau semesteran, yang penting itu tetep belajar.
Sebab, dengan belajar, walaupun hanya seuprit (satuan yang lebih kecil dari atom), saya jadi percaya diri dalam menghadapi ulangan sehingga lebih yakin dengan jawaban-jawaban saya (walaupun aslinya sotoy). Dan, siapa tahu yang saya pelajari hanya sedikit ternyata persis soal yang keluar di ulangan?
Nah, yang saya maksud belajar di sini adalah benar-benar memahami materi apa yang dipelajari. Contohnya, ketika belajar dimensi tiga, saya nggak cuma hapalin rumus ABC Pythagoras, tapi juga coba pahami kenapa dan kapan harus menggunakannya. Setelah itu, saya juga latihan soal.
Sejak SMP, saya belajar banyak tentang cara belajar, tekniknya, dan metode-metodenya dari Youtube. Di bawah ini video-video atau artikel yang sempat saya tonton dan baca yang memotivasi saya untuk terus belajar.
- Playlist Video Learning How to Learn with Hutata
- Cara Belajar Sampai Paham: Teknik Feynman
- Cara Belajar yang Efektif: Deliberate Practice (DP)
Selain video dan artikel, saya juga belajar banyak dari membaca buku. Di bawah ini juga buku yang membentuk pola pikir saya dalam belajar.
- Atomic Habits, mengajari saya tentang peran kebiasaan dalam belajar.
- Filosofi Teras, mengubah pola pikir saya tentang belajar: fokus ke apa yang bisa kita kontrol (belajar) dan pasrah dan tawakkal sama hasilnya (nilai) .
Pelajaran-pelajaran itulah yang terus saya bawa dan terapkan dalam kehidupan saya sebagai siswa untuk terus belajar (meskipun cuma kalau mau ada ulangan). Dengan memahami cara belajar yang cocok untuk saya, saya jadi belajar secara efektif dan nggak buang-buang waktu dan tenaga.
#2: Berkompetisi dengan teman sekelas
Seumur-umur saya sekolah, teman sekelas saya di SMA adalah yang paling kompetitif. Saya akui, saya selalu ngos-ngosan untuk bertarung secara akademik melawan mereka. Pertempuran berdarah-darah ini kami lakukan dari tahun ke tahun demi memperoleh peringkat terbaik di kelas.
Kompetisi ini membuat saya selalu bersemangat untuk belajar dan nggak pernah mau kalah dari mereka.
Pernah waktu itu, nilai ulangan MTK saya hanya beda nol koma sekian dengan teman sekelas saya. Untungnya dewi keberuntungan berpihak pada saya sehingga nilai saya tetap lebih tinggi daripada dia dan saya tetap berada di peringkat teratas.
Meski begitu, nggak selamanya saya ada di peringkat teratas. Dan bukannya murung, frustrasi, atau terpuruk, itu malah bikin saya semakin bersemangat untuk terus berkompetisi melawan mereka.
Adapun di luar pertempuran berdarah-darah ini, kami semua berteman baik kok. Kami saling memberi tahu jawaban apa yang kami pilih tadi ketika ulangan. Saya sering bertanya tentang hal yang saya nggak pahami dan mereka pun memberi tahu saya. Bahkan, kami pernah adain sesi belajar online bareng buat ulangan!
#3: Menjaga hubungan yang baik dengan teman sekelas
| Foto saya dan teman-teman sekelas setelah acara kelulusan SMA (Dok. Pribadi) |
Di sekolah, saya belajar di sebuah kelas di mana ada 44 siswa lain yang satu ruangan bersama saya. Karena lingkungan adalah hal yang sangat berpengaruh dalam proses belajar, maka saya selalu menjaga lingkungan pertemanan saya di kelas supaya selalu baik.
Nggak nyaman dong kalau pas lagi belajar tiba-tiba si A nyamperin saya terus bilang, “EH LU YA YANG NARO KUCING DI TAS GUA??!” atau si B tiba-tiba nyeletuk buat nyindir saya, “Ehem, yang namanya Ridzqie mau ribut di mana??”
Untungnya, hubungan saya dan teman-teman sekelas sangatlah baik, harmonis, husnul khotimah, adil, dan makmur.
Selengkapnya tentang hubungan dekat saya dengan teman sekelas bisa kamu baca di tulisan:
Tanya Tugas Jadi Tanya Lowongan Kerja: Obrolan Pamungkas Masa SMA
Hubungan yang baik dengan teman sekelas membantu saya tetap fokus ketika belajar. Pikiran saya jadi nggak dipenuhi oleh dendam kesumat atau prasangka buruk kepada teman-teman. Makanya, kalau udah nggak belajar, ya kami tetap bercanda-ngakak-jungkir balik-sikap lilin-dan kayang.
#4: Mempertahankan kebiasaan dan minat saya di sekolah
Selain tidur sambil makan Indomie goreng, ada kebiasaan-kebiasaan lain yang selalu saya pertahankan di sekolah supaya tetap waras dalam menghadapi tugas, PR, praktikum, dan deadline yang bejibun.
Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya berasal dari minat saya. Salah satunya, yaitu kebiasaan menulis. Kesukaan saya menulis awalnya tumbuh dari membaca buku. Itulah mengapa saya gabung ke dalam komunitas PUSAKAWIRA (Pustakawan Siswa/i SMAN 1 Cikarang Utara) untuk menyalurkan minat literasi saya di sekolah.
Selain itu, saya juga selalu menulis setiap hari untuk mengakhiri hari. Biasanya, saya menulis tentang hal menarik apa yang terjadi di sekolah hari ini, cerita lucu apa yang disampaikan guru A, dan lain-lain.
Kamu bisa baca lebih lengkap tentang kebiasaan menulis saya di tulisan berikut.
25 Tulisan dalam Sebulan: Impian Saya Menulis Esai Menjadi Kenyataan
Saya juga suka sekali musik. Makanya, tak jarang, kalau lagi istirahat, saya dan teman-teman nyetel musik kesukaan—biasanya musik yang lagi viral di Tiktok—terus nyanyi bareng. Kami bahkan bikin playlist bersama untuk menikmati musik di kelas.
Nah, mempertahankan kebiasaan dan minat di sekolah membantu saya menyeimbangkan antara hal-hal yang merupakan kewajiban dengan hal-hal yang saya lakukan secara sukarela, hobi, dan minat. Ini benar-benar saya butuhkan supaya bisa selalu enjoy proses belajar di sekolah.
#5: Menciptakan hubungan yang dekat dengan para guru
Saya suka sekali aktif di kelas dan berinteraksi dengan guru pengajar. Biasanya, saya bertanya tentang topik yang nggak saya pahami, atau tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa muncul dari topik tersebut.
Saya pun jadi semakin dikenal oleh para guru karena sering menampakkan diri di hadapan mereka (serem banget buset!). Dengan begitu, saya lebih menikmati proses belajar karena merasa bahwa guru tersebut sudah mengenal saya dan mengajarkan ilmunya kepada saya layaknya seorang teman.
Dan lagi-lagi, karena dekat dengan guru, lingkungan belajar pun terasa makin nyaman dan akrab sehingga saya jadi lebih fokus dan bersemangat untuk terus belajar. Apalagi, guru-guru di IPS sangat unik, seru, dan gaul. Sekolah jadi makin asyik deh!
#6: Mengikuti program pengayaan yang diadakan sekolah dengan antusias dan sungguh-sungguh
Ketika sekolah mengumumkan bahwa akan diadakan program pengayaan untuk kelas 12, saya sangat antusias untuk mengikuti programnya. Prestasi saya sebagai siswa terbaik juga dibantu oleh program ini.
Saya nggak menganggap program ini sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk saya meningkatkan nilai-nilai yang masih kurang di semester-semester sebelumnya. Maka, saya berpartisipasi dalam program pengayaan dan meningkatkan nilai-nilai saya sebanyak yang saya bisa.
Untungnya, poin-poin yang saya sebutkan di atas mendukung saya untuk mengikuti program ini. Kedekatan dengan guru memudahkan saya untuk menghubungi guru tersebut untuk meminta keterangan tugas, lingkungan pertemanan yang baik membantu saya tetap fokus, dan hobi dan minat saya menjaga saya tetap waras dalam menghadapi semuanya.
#7: Mencintai sekolah, mencintai proses, dan selalu berusaha jadi yang terbaik
Sejak SMP, SMAN 1 Cikarang Utara adalah SMA impian saya. Setiap kali melewati gerbang SMA itu, saya selalu bilang di dalam hati kalau itu nanti adalah sekolah SMA saya. Impian tercapai, akhirnya saya diterima untuk bersekolah di sini.
Saya mencintai sekolah ini sedalam-dalamnya bagaikan tiada yang lebih dalam.
Maka tak heran, seluruh proses pembelajaran di sekolah seakan-akan terlewati begitu saja karena saya benar-benar menikmati perjalanannya.
Saya benar-benar suka bersekolah di sini. Saya menyukai bangunannya yang tinggi, lapangannya yang luas, dan lingkungannya yang nyaman. Saya menyukai guru-gurunya yang memiliki karakter unik masing-masing dalam mengajar, ibu-ibu kantin yang ramah dan makanannya yang sederhana tapi enak, teman-teman sekolah yang saya sangat beruntung bisa menemui mereka. Saya menyukai semua-muanya.
Kalau udah suka banget, pasti ingin dong jadi yang utama di hatinya?
Makanya, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik bagi sekolah ini.
Dan, alhamdulillah, saya berhasil.
Kecintaan saya terhadap sekolah ini membuat saya menikmati prosesnya sedemikian rupa sehingga saya nggak terlalu memikirkan hasilnya. Saya hanya terus berproses, berproses, dan berproses karena saya sangat menyukainya dan ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi yang terbaik di sini.
Walaupun, memang, ada juga hal-hal pahit yang saya alami di sekolah ini. Tapi, setelah saya lulus dan saya pikir-pikir lagi, ternyata itu cuma bentuk lain dari cinta sekolah. Hehehehe.
Lopyupul, SMAN 1 Cikarang Utara.
Komentar
Posting Komentar