#14: Pertemanan di Sekolah Bukanlah Pertemanan Kontrak

Setelah acara kelulusan SMA di tanggal 22 Mei kemarin, saya jadi ingat dengan teman-teman sekelas saya dari SD dan SMP. Gimana ya kabar mereka sekarang?

Teman-teman sekelas SMP saya di kelas 7G, SMPN 1 Sukatani (Dok. Pribadi)

Saya kesulitan untuk mengingat nama mereka satu per satu, dan kalau dipaksa mengingat, mentok di wajah saja. Padahal, kami sempat menghabiskan waktu yang nggak sedikit--3 sampai 6 tahun bersama. Kok bisa ya?

Saya merasa pertemanan di masa tersebut seakan-akan hanya sementara. Setelah beberapa tahun bersama, kami harus berpisah dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Kami hanya ketemu setiap  Senin-Jum'at di kelas atau di suatu tempat untuk kerja kelompok, lalu setelah lulus, nggak lagi.

Apa ini sebenarnya? Pertemanan kontrak? Waduh!

Memang, ada teman-teman SD dan SMP saya yang masih "saling mengabari" sampai sekarang. Kami saling mengikuti di media sosial, dan walaupun nggak berinteraksi secara langsung, seenggaknya saya bisa tahu bagaimana kabar teman-teman saya lewat Story IG atau postingannya di medsos.

Rasanya sayang banget kalau hubungan pertemanan itu hilang begitu aja.

Bukannya kepo, saya hanya penasaran (sama aja, kambing!) dengan kabar teman-teman saya. Soalnya kadang, kalau lagi senggang, tiba-tiba saya kepikiran, 

"Eh, si Anu temen SD sekarang lagi sibuk apa ya?"

Selain itu, kan nggak ada yang tahu SIAPA akan menjadi APA di masa depan. Siapa tahu teman SD atau SMP saya bisa menjadi relasi yang penting bagi saya di masa depan dan saya bisa meminta tolong kepada mereka atau sebaliknya. 

Siapa tahu teman SD saya ada yang jadi artis dan saya bisa bangga-banggain dia dengan bilang, "Artis itu dulu teman SD saya." Siapa tahu di masa depan saya jadi presiden dan kalau ada teman SMP yang kesusahan bisa saya bantu. Kan nggak ada yang tahu???

Teman-teman sekelas SD saya di Ragunan (Dok. Pribadi)

Pertemanan di sekolah membentuk jaring-jaring relasi dalam kehidupan. Dan nggak seharusnya jaring-jaring itu terputus begitu saja. 

Ya, memang benar bahwa perpisahan itu nggak terhindarkan. Tapi, seenggaknya sekarang teknologi sudah memudahkan kita untuk selalu saling terhubung lewat media sosial. Jadi, kita tetap bisa saling berteman dan mengabari satu sama lain di sana. Kita bisa terus menguatkan jaring-jaring relasi!

Jangan sampai hubungan pertemanan itu terbuang sia-sia, apalagi sampai menganggap satu sama lain orang asing ketika berjumpa. Kita pernah berteman, dan akan selalu berteman. Perpisahan nggak seharusnya "memisahkan" hubungan pertemanan kita. 

Jadi, pertemanan di sekolah bukanlah lagi pertemanan kontrak. Sekarang, tinggal kita mau perpanjang kontraknya atau nggak dengan terhubung di media sosial. Jadi, kalau ada teman SD atau SMP saya yang baca tulisan ini, ayo perpanjang kontrak pertemanan kita jadi seumur hidup di Instagram!

***

Nah, makanya saya nggak mau itu semua terjadi dengan teman-teman di SMA. Bagi saya, masa SMA adalah masa-masa paling spesial dan saya nggak mau ngelupain bahkan hal-hal terkecil dari masa ini, apalagi teman-teman sekelas saya. 

Makanya, saya sudah mengikuti semua akun Instagram teman-teman saya, menyimpan nomor WA semuanya, dan mengingat baik-baik nama dan wajah mereka.

Walaupun benar, saya nggak ingin percaya sama perkataan "Setiap masa, ada orangnya". 
Walaupun pasti benar, saya nggak mau terikat sama perkataan "Orang-orang datang dan pergi". 

Teruslah hidup bersama saya, teman-teman, meskipun hanya dengan melihat update Story Instagram, meskipun hanya berteman di media sosial, meskipun hanya dengan membaca tulisan ini.

Komentar

Postingan Populer