#11: Saya Ingin Sekali Gondrongin Rambut
| The Beatles adalah salah satu artis yang menginspirasi saya untuk menjadi gondrong. |
Setelah lulus SMA, saya ingin sekali gondrongin rambut. Karena pada akhirnya setelah 12 tahun lamanya terkekang peraturan sekolah yang mengatakan bahwa rambut tidak boleh sampai menyentuh kuping, saya akan lulus dan terlepas dari semua peraturan itu.
Gondrongin rambut adalah salah satu cara saya untuk merayakan itu semua. Nggak ada yang lebih indah dari kebebasan yang tergambar lewat rambut yang hari demi hari tumbuh tanpa batasan, tanpa kekangan, dan tanpa dirazia oleh guru kesiswaan.
Saya rasa, gondrongin rambut juga jadi upaya saya dalam eksplorasi tentang diri saya lebih jauh. Apakah saya akan suka dengan rambut saya yang gondrong? Atau lebih suka dengan rambut saya yang pendek? Nggak peduli. Yang penting bagi saya sekarang gondrong aja dulu.
Rambut saya pernah pendek, tapi belum pernah sama sekali gondrong. Makanya, harus saya coba.
Dan dalam seumur hidup, kesempatan untuk mencoba menjadi gondrong itu terbatas sekali. Kira-kira hanya 4 tahun selama kuliah. Atau, jika beruntung dan mendapatkan pekerjaan yang nggak permasalahkan rambut gondrong, bisa selamanya!
Nah, saya lebih cari aman dan memasukkan diri saya ke golongan orang-orang yang hanya "bisa" gondrong selama 4 tahun. Dan sekarang saya berada di tahun-tahun tersebut. Saya akan memanfaatkan fase hidup rambut gondrong saya yang sangat terbatas ini.
Kenapa saya ingin sekali gondrongin rambut?
Pertama, kayak yang sudah saya sebut di atas, menjadi gondrong itu upaya saya buat merayakan kebebasan dan mengeksplorasi diri.
Kedua, saya melihat idola-idola saya lewat rambut yang gondrong, dan saya ingin meniru mereka. Banyak sekali idola saya yang gokil (gondrong dekil), dalam dunia musik antara lain, yaitu The Beatles (era rambut moptop dan era gondrong Let It Be), Paul McCartney (era Wings dengan rambut shaggy mullet-nya), Bob Dylan, The Lemon Twigs, Lamp, Payung Teduh (Mas Is), dan Jason Ranti; dalam sastra antara lain, yaitu Emha Ainun Nadjib (idola utama saya), Seno Gumira Ajidarma, dan WS Rendra. Dan daftarnya masih banyak lagi jika saya teruskan.
Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas adalah para gondrongers (wkwkwk) yang berkecimpung di dunia kreatif, terutama musik dan sastra. Berkat mereka, saya jadi mengasosiasikan bahwa orang gondrong itu kreatif. Makanya, saya ingin sekali menjadi seperti mereka: gondrong bin kreatif nan produktif.
Dengan menjadi gondrong di masa depan, saya harap pikiran dan daya kreatif saya ikut tumbuh dan terus-menerus tumbuh bersama rambut saya.
Rambut saya, pikiran saya, dan jiwa saya harus dibebaskan.
Komentar
Posting Komentar